22 May 2013

Tinja Pengharum Ruangan Juara III Olimpiade Turki

International Environment Project Olympiad. Inepo.com

Pengharum ruangan dari tinja sapi karya Dwi Nailul Izzah dan Rintya Miki Aprianti, siswa SMA Muhammadiyah Babat, Lamongan, Jawa Timur, berhasil meraih juara III di ajang International Environment Project Olympiade (INEPO) 2013 di Istanbul, Turki, pada 17-20 Mei 2013.

“Ya, baru saja kami terima informasi ini beberapa waktu lalu,” kata guru SMA Muhammadiyah Babat, Emzita Taufiq, kepada Tempo, Selasa, 21 Mei 2013. Kabar gembira itu pun langsung disampaikannya ke Pemerintah Kabupaten Lamongan dan Dinas Pendidikan Kabupaten.

Menurut dia, kedua siswa berprestasi itu kini masih berada di Istanbul, Turki, ditemani Kepala SMA Muhammadiyah Babat, Mustafit, dan guru bahasa Inggris. Mereka dijadwalkan baru pulang dalam dua hari ini.

Pihak sekolah belum mendapatkan informasi soal hadiah yang diterima juara III INEPO. Tetapi, yang terpenting, kata Emzita, siswi di sekolahnya bisa meraih prestasi tinggi dan bergengsi di bidang ilmu pengetahuan. “Kami syukuri itu,” kata Emzita.

Apalagi, di ajang INEPO ini, Dwi Nailul Izzah dan Rintya Miki Aprianti bersaing ketat untuk beradu karya dengan peserta dari 50 negara. Di antaranya dari Kanada, Denmark, Finlandia, Jerman, Italia, Portugal, Malaysia, Amerika Serikat, Rusia, dan Polandia.

Sebelum diikutsertakan dalam lomba di Istanbul, Turki, pengharum ruangan dari tinja sapi ini sudah berhasil meraih juara I tingkat nasional pada ajang Indonesian Science Project Olympiade (ISPO) 2013. Karya mereka juga sudah diuji coba dan dipresentasikan di depan Bupati Lamongan Fadeli.


Lihat Selengkapnya ...

17 May 2013

Vote for Ninis

Assalamu'alaikum Wr. Wb

Sesuai janji saya untuk ikut membantu Nur Nisrina Hanif Rifda si bocah istimewa siswi MI Muhammadiyah 8 Bulu untuk mewujudkan impiannya untuk menjadi penulis besar dengan mengikuti Audisi Semangat dari Biskuat. Seperti yang sudah kita bahas pada post terdahulu, Ninis sudah banyak mengukir prestasi dari kegemarannya menulis, mulai dari menulis skenario drama di sekolah sampai Prestasinya dengan mencatatkan namanya pada papan pemenang pada lomba menulis tingkat Provinsi Jawa Timur. Jadi tidak salah jika anda juga turut memberikan dukungan anda dengan turut memberi suara dalam voting Penulis naskah Film yang nantinya akan diproduksi oleh Produk Snack Kesukaan anak-anak Biskuat.

Pada beberapa posting kami di FanPage facebook MI Muhammadiyah Bulu sudah kami berikan petunjuk mengenai bagaiman cara memberikan suara (vote) untuk Ninis, tapi karena memang agak rumit jadi ada sebagian yang mengalami kesulitan untuk vote. nah berikut akan kami berikan tutorial beserta gambar agar sedikit lebih jelas.

Simak dan ikuti beberapa langkah berikut untuk memberikan suara buat Ninis menggunakan akun Facebook kita :
1. Silahkan masuk ke website biskuatdengan klik link ini http://biskuatsemangat.com
    Maka anda akan diarahkan ke halaman seperti pada gambar dibawah ini

 

2. Kemudian klik pada tombol "Masuk" dipojok kanan atas seperti pada gambar diatas yang saya beri kotak kuning. maka akan muncul jendela pop-up seperti gambar dibawah ini. Kemudian klik tulisan facebook yang saya beri kotak kuning.


4. setelah anda klik tulisan facebook, maka anda akan diarahkan ke halaman login facebook seperti dibawah ini.

Silahkan isikan email dan password akun facebook anda, kemudian klik login.
5. setelah anda klik log-in, mungkin akan berbeda tampilan pada setiap user. jika ada permintaan dari aplikasi biskuat maka klik saja pada tombol "OK". biasanya dua kali. tapi jika anda sudah pernah mengijinkan aplikasi ini untuk berjalan di Facebook anda maka tombol "MASUK" yang tadi kita klik akan berubah menjadi "Hai", dan diikuti dengan nama Facebook kita seperti gambar dibawah ini.

Tadaaaaa.. Jika muncul halaman seperti gambar diatas, maka registrasi kita sudah berhasil.

Nah setelah proses registrasi kita berhasil berikutnya tinggal kita lanjutkan dengan proses voting.
Caranya :
- silahkan klik "GALERI" yang ada di sebelah nama kita tadi. maka kita akan digiring ke halaman sperti gambar dibawah ini. kemudian cari  kolom pencarian seperti gambar dan ketikkan "nur nisrina hanif rifda" kemudian klik tombol "CARI"

Maka akan keluar halaman dengan video Ninis seperti pada gambar dibawah. 


Kemudian klik saja pada Thumbnail Video tersebut, dan akan keluar jendela pop-up lagi. seperti gambar dibawah.


Ini bagian yang terpenting
  • Perhatikan gambar bintang dan jumlah angka yang ada diatas jendela pop-up
  • Silahkan klik pada gambar bintang, jika angka yang ada disamping Bintang tersebut bertambah, maka vote kita telah berhasil.
Naaaah, demikianlah saudara-saudara sekalian, tutorial yang memang agak rumit. tapi jika anda memang benar-benar berniat membantu Ninis dan pastinya juga akan membawa Nama MI Muhammadiyah 8 Bulu, saya pikir tidak ada hal yang sulit. jika masih menemui kesulitan, silahkan tinggalkan komentar pada kotak dibawah yang sudah kami sediakan. 

Terima Kasih atas vote yang anda berikan.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb
Lihat Selengkapnya ...

6 May 2013

Little Story in My School



Satu lagi Karya Ninis yang dimuat di Radar Bojonegoro edisi Minggu, 5 Mei 2013. Tapi kali ini banyak yang diedit oleh editor Radar Bojonegoro. Yang ada di gambar di akhir post ini adalah versi yang sudah dimuat. yang masih berupa text ini adalah versi aslinya. Tulisan ini memang sengaja Ninis persembahkan khusus untuk MI Muhammadiyah 8 Bulu yang tak lama lagi akan Ninis tinggalkan, dan juga teman-teman sekelasnya yang sebentar lagi akan saling berpisah untuk menempuh pendidikan di jenjang SLTP. Silahkan dibaca :-) Ada saya juga loo dicerita ini. hehe :-D

*********************************************************************************


LITTLE STORY  IN  MY SCHOOL
Oleh : Nur Nisrina Hanif Rifda


Sekolahku, sekolahku adalah sebuah sekolah kecil yang termangu-mangu. Terletak di dalam sebuah desa kecil yangindah. Dikelilingi pepohonan rindang dan sungai yang mengalir deras. Sekolahku ini dibangun sekitar tahun 70-an. Dulu, bentuk sekolahku berkesan tua dan lebihmirip kandang kambing daripada sekolah. Berdinding papan, beratap bocor, lacimeja penuh telur semut dan sarang laba-laba, papan tulis kayu yang dimakanrayap dan meja yang sudah lapuk.

Tapi sekarang, bentuk sekolahkusudah lebih baik, berkat donatur-donatur yang menyumbang, Uang yang terkumpulcukup banyak dan mampu dibuat renovasi. Sekarang pun sudah ada lantai dua. Ya,walaupun lantai duanya masih berlantai tanah tetapiaku dan teman-temanku sudahcukup nyaman belajar disini.

Oke, Aku akan bercerita sedikittentang kelasku. Kelasku adalah satu-satunya ruangan yang terletak di lantaiatas. Dari balkonnya, kalau kita mau melongok sedikit pasti akan terkesima olehpemandangan yang....so beautiful. Walaupun begitu, bisa dibilang, kelas kamiadalah kelas termiskin di sekolah.

Bayangkan, murid yang menempatinyahanya ada sembilan. Dulu kami sekelas memang bersepuluh, tapi salah seorangkawan kami pindah ke sekolah lain. Karena hanya ditempati oleh murid yangsedikit, uang kas kami pun juga tak banyak, per minggu paling banyak hanya bisamenghasilkan Rp.10.000,-. Uang itu harus dibagi untuk membeli keperluan KelasKami yang menumpuk. Sapu, Tempat sampah, Penghapus, Papan Tulis, Penggaris, Kertas  untuk membuat Prakarya, Lap Meja, Taplak, sekotakkapur setiap Minggunya, bahan-bahan praktik Sains, sampai hiasan kelas.

Terkadang, kami membuat HiasanKelas dari kaleng bekas minuman.Untuk lap meja dan taplak,Kami membawa sendiri sisa sisa kain perca dari rumah. Atau,kami menemukan kain perca di pinggir jalan, lalu kami cuci bersama-sama di sungaisampai bersih. Dan yang paling membuat kami jengkel adalah, sapu ataupun tempatsampah yang sudah susah payah didapat terkadang diangkut ke bawah dan takdikembalikan.Kalau sudah begitu, terpaksa, kami harus rela mengorbankan sedikittenaga Kami untuk naik turun tangga.
                                                      ..........
Sekolah Kami juga merupakan saksi bisu pertengkaran pertengkaran kecil Kami sebagai Warga Satu Sekolah. Akankuceritakan salah satu pertengkaran Kami
                                                     ...........
“Assalamu’alaikum”.Ucapku ketika memasuki Kelas. Di Kelas, hanya ada Lia dan Rosyida. Mereka tampak saling menyendiri. Lia di balkon, sedangkan Rosyida duduk sambil menulissesuatu di bukunya.

“Eh, enggak dijawab nih salamnya? Dosa,lho!”.Ujarku sambil duduk di kursiku.

“Wa’alaikumsalam!”Lia dan Rosyida kompak menjawab salam.

“Cieee...Kompakbanget,sih!” Komentarku sambil bertepuk tangan.

“Nis,turunyuk! Semoga hari ini main voli lagi di lapangan,” Ajak Lia.

“Janganvoli dong! Tanganku sakit nih?! Gara gara kena Bola voli” Sahutku.

Tak Lamakemudian, Rilla dan Nadia masuk kelas tanpa mengucapkan salam. Ya memang begitulah kelasku, hanya satu dua anak yang masih mengucap salam.

“Eh, udahngerjain PR Matematika, belum?”Tanya Rilla. Dia memang aktif banget kalau dalamhal ....mengerjakan PR!!

“Oh ya,Aku lupa!”Lia berlari ke arah kursinya, mengambil buku tulis dan tempat pensillau.....menghampiri Rilla.

“Ril, akupinjem tugasmu ya?” Pinta Lia. Rilla menggeleng dan menutup bukunya, Liamendesah kecewa.

Akutertawa kecil dan menuruni tangga. Dibawah, Aku bertemu dengan Ofi, Mery danLaili yang baru datang.

“Hei, udahngerjain PR, belum?!”Sapaku.

“Mati,Aku!”Mery menepuk keningnya dan berlari menaiki tangga. Aku hanya geleng-gelengkepala.

Akhirnya,Pak Fa’ul yang mengajar olahraga datang. Kemudian, Kami berkumpul membentukbarisan.

“Hari ini,kita olahraga di lapangan timur saja ya!” Ujar Pak Fa’ul

“Yaah....Pak.di lapangan Barat saja ya Pak!” Pinta anak laki-laki yang memang hobi main boladi lapangan Barat. Kalau perempuan, enggak dapat tempat olahraga!

“Tadimalam hujan, jadinya lapangan barat becek, kalau lapangan timur kan sudahdisemen” lanjut Pak Fa’ul, kami terpaksa menurut.

Sesampainyadi lapangan Timur, anak laki-laki langsung membentuk grup untuk sepak bola.Sementara anak perempuan saling meluruskan kaki dan beristirahat sejenaksebelum berolahraga.

Oh ya,lapangan Timur ini dekat dengan rumahku lho! Hanya berjarak 2 rumah ke arahtimur. Aku juga sering bermain sepeda disini bareng anak-anak tetanggaku.

“Eh, main lompattali yuk!” Ajakku. Teman-teman menyambut dengan gembira. Kami bermain dengansenang. Melompat-lompat seperti kelinci.

Usaibermain lompat tali, kami bermain sepak bola. Tentu saja, karena kami tidaktahu aturan sepakbola kecuali handsball, gol, pelanggaran, arti kartu merah dankuning, jadinya bermain amburadul ha..ha..ha..
Setelahbermain sepak bola, kami beristirahat sejenak. Sementara Aku, Laili, Lia dan Merypergi untuk melihat burung kakatua yang dimiliki seorang warga. Ketika kamikembali bergabung dengan teman-teman yang lain, kami melihat mereka sedangbergosip. Kelihatannya, sedang ngegosipin Rosyida.

“Lagingegosipin siapa sih?” tanya Mery ingin tahu. Serentak, semuanya menoleh.

“Eh, kamu ngerasa ada yang aneh nggak dengan Rosyida?”Tanya Nensi, salah satu anak kelas5. Aku mengangkat bahu. Sementara Lia memandang Rosyida yang sedang bermainmasak-masakan bersama anak-anak perempuan kelas 4.

“Dia ituanaknya suka mencari-cari kesalahan anak lain. Ngerasa dirinya paling benar.”Kata Rilla.

“Iyatuh..setiap kali kita bikin kesalahan, dia pasti sok jadi pahlawan kesiangan”sambung Ofi.

Usai olahraga...

Kamisengaja ganti baju terpisah dari Rosyida. Biar dia merasa, ditinggal sahabatitu kayak gimana rasanya. Dulu, dia sering membiarkan kami sendiri tanpa adayang menemani.

Usai gantibaju, kami cepat-cepat kembali ke kelas. Di kelas, Rosyida tampak menggambarsesuatu di buku corat coretnya. Tiba-tiba...

“Eh, kita bikin grup khusus 7 anak yuk!” ajak Rilla.

“Kitakeluar yuk, disini sumpek !” Keluh Merry. Kamipun keluar kelas.

“Gimanakalo nama grupnya ...mmmm... LaNiNa MeLiOLi” Usul Ofi

“LaNiNaMeLiOLi?” Kami bicara serentak

“Iya,gimana, bagus nggak?” tanya Ofi

“Bagus kok!” jawab kami serempak.

Keesokanharinya, Rosyida tampaknya tidak masuk sekolah hari ini. Mungkin, dia stresskali ya, aku sebenarnya agak nggak tega. Tapi apa boleh buat, setiap kali akudapat nilai bagus, dapat barang baru, bahkan saat pertama kali aku pakaikacamatapun digosipkan. Padahal kan aku pakai kacamata karena butuh, bukanuntuk sekedar action ato biar keren, meskipun dengan kacamata aku juga tambahkeren sich,ha ha ha.

“Ternyatanggak ada Rosyida itu nggak enak ya” kata Khoirul, satu-satunya anak laki-laki dikelasku.

“Tapi kitasudah banyak disakiti sama dia” sahut Ofi

“Allah ajaMaha Pengampun, masa kita sebagai hambaNya nggak bisa memaafkan sih. Kita kanmemang sudah ditakdirkan untuk berteman” kataku lagi.

“Memangnya,kamu ikhlas maafin dia? Tanya Rilla

“Enggakjuga sih” jawabku enteng. Serentak, semua anak melempariku dengan menggunakanbola-bola kertas. Sementara aku tiarap di bawah meja.

Keesokanharinya di sekolah, Rosyida datang lagi ke sekolah. Ketika dia datang kamiserempak menyanyikan lagu Cakra Khan.

“Kuberlari,kau terdiam..kau menangis ku tersenyum” kami menyanyi dengan kompak.

Tetapi,kamipun tak sanggup berlama-lama memperlakukan Rosyida seperti itu. Bagaimanapunjuga, kami juga bisa merasakan sedihnya dimusuhi sama teman, sekelas lagi.Akhirnya kami bersepakat untuk menyapa Rosyida lagi dan mengingatkan dia untuktidak suka menggosipkan teman lagi. Kamipun bermaafan dan berpelukan.
....

Itulah secuil kisah tentang riak-riak kecil disekolahku. Amanat yang ingin aku sampaikan melalui cerita ini adalah;bersyukurlah atas apapun dan bagaimanapun sekolahmu atau tempatmu menuntutilmu. Di sekolah, kami menemukan kebahagiaan yang belum pernah kami temukansebelumnya. Di sana, kamu bertemu guru-guru yang baik hati, kawan, sahabatsetia, disanalah rumah keduamu.

Coba pandangi lagi gedung sekolahmu. Jika dilihat sisi luarnya saja, sekolahmu tampak sebagai benda mati. Tapi, jika dilihat sisi dalamnya, sekolahmu akan tampak sebagai tempat terindah dihidupmu.Bagiku, sekolahku adalah sekolah terbaik di muka bumi ini. Disinilah tempatku berbagi cerita sekaligus menuntut ilmu. Disinilah, aku menemukan kebahagiaan yang berarti. Terukir sejuta kenangan di dindingnya.

Sayang, seribu sayang, aku harus pergimenapakkan kaki keluar dari sini. Takkan pernah kulupa tentangmu sekolahku...good bye my lovely school


Lihat Selengkapnya ...

3 May 2013

Dibalik Kelas Tak Berpintu


Agungnya Kekuasaan Allah


Kulihat sejenak luasnya alam ini
Langit yang menjulang tinggi tanpa tiang
Bumi yang luas yang tak pernah kutemukan batas akhirnya
Gunung yang menjulang tinggi
Serta seluruh apa yang ada


Terbisik di dalam hatiku
Subhanallah, betapa agungnya Engkau
Dalam ciptaan alam
Ya Allah betapa kerdilnya diri ini dibandingkan diri-Mu
Betapa keterlaluannya diriku
Jikalau bermaksiat kepada-Mu
Akan tetapi sedihnya diriku melihat hamba-hamba-Mu
Selalu bermaksiat pada-Mu
Perintahmu mereka abaikan
Larangan-larangan-Mu mereka terjang

Ya Allah, jadikanlah diriku orang yang paling takut pada-Mu
Jadikanlah jiwaku orang yang selalu merasa diawasi oleh-Mu
Jadikanlah diriku orang yang selalu mentauhidkan-Mu
Amiin ya robbal’alamin.


**dikutip dari akun facebook Luthfi Nur Rosyidi

____________________________________________________


Puisi diatas mungkin terlihat biasa saja menurut beberapa orang. tapi siapa sangka bahwa kata-kata indah tersebut adalah hasil dari coretan tinta seorang anak yang baru berumur 6 tahun (ketika menulis puisi tersebut). 

Nur Nisrina Hanif Rifda, anak istimewa ini memang hobi menulis, sejumlah karyanya sudah kerap kali menwarnai halaman koran Radar Bojonegoro yang merupakan anak turun dari Koran harian kenamaan Indonesia "Jawa Pos". Gadis kecil yang akrab disapa Ninis ini juga pernah mencatatkan prestasi menulisnya  di tingkat provinsi, Ia berhasil meraih juara harapan II dalam ajang lomba menulis pada Festival Anak Muslim Provinsi Jawa Timur tahun 2012.
Putri sulung dari pasangan Bapak Mochamad Nurhadi dan ibu Fahtia Nur Rosyida  ini memang istimewa, di usianya yang baru sepuluh tahun pada tanggal 28 April 2013 kemarin, gadis kecil yang kerap disapa Ninis ini sudah banyak mencatatkan prestasinya sendiri, baik prestasi di sekolah maupun prestasi diberbagai ajang lomba dan olympiade.
Ninis (tengah) dan ibunya (kanan) sesaat setelah menerima piala
pada Festival Anak Muslim Provinsi Jawa Timur tahun 2012


Ninis sehari-harinya belajar di MI Muhammadiyah 8 Bulu. Madrasah yang pernah disebut oleh  Luthfi Nur Rosyidi (Om nya Ninis)  dan akhirnya tenar dikalangan pengurus Madrasah dengan sebutan Madrasah  Laskar Pelangi karena kondisi bangunannya mirip dengan keadaan SD Muhammadiyah yang ada pada Novel Laskar Pelangi (Filmnya belum rilis ketika itu). Namun seiring usaha yang dilakukan oleh mbah Abdul Manan Rosyid (Kakeknya Ninis) yang membuahkan hasil pembangunan ruang kelas baru, julukan tersebut perlahan menghilang dari perbincangan pengurus. Namun sampai sekarang masih menyisakan beberapa ruang yang belum berjendela dan belum berpintu karena beberapa proposal bantuan yang diajukan kepada Lembaga Sosial maupun Pemerintah belum juga membuahkan hasil. Di dalam salah satu ruang kelas yang  belum berjendela dan berpintu tersebut Ninis belajar setiap hari dengan 8 temannya. Ia tetap bersemangat menerima berbagai pelajaran yang disampaikan oleh pendidiknya di Madrasah. Disela-sela waktu istirahatnya ia sering membuka buku tulis yang khusus dipergunakan untuk menulis olehnya kemudian mulai menulis cerpen atau apa saja yang ingin ia tulis. dan ketika Ninis sudah mulai menulis, saya (salah satu guru MIM 8 Bulu) yang biasanya suka sekali nimbrung dengan obrolan dan candaan khas anak-anak ketika istirahat pun tidak mendekati Ninis. Bukan karena tidak mempedulikan, tapi anak ini memang sedikit pemalu. Pernah suatu ketika saya mendapatinya sedang menulis, Ninis masih berumur 8 tahun  (kelas IV) ketika itu. sewaktu ia tahu saya mendekatinya, ia langsung menutup buku dan menyimpannya, serta hanya menjawab dengan senyuman khasnya ketika saya tanyakan tentang apa yang ia tulis. Semenjak itulah saya tidak lagi menghampirinya ketika Ninis sedang menulis, khawatir akan menghilangkan ide atau inspirasi yang ia dapatkan ketika itu. dari hasil obrolan saya dengan Lek Ida (begitu saya memanggil ibunya Ninis), ketika di rumah pun ia juga seperti itu. Tidak mau begitu saja Ninis memperlihatkan tulisannya kepada orang lain, bahkan dengan ibunya sendiri. Ini saya simpulkan sendiri ketila Lek Ida menceritakan tentang teks Drama Panggung yang saya percayakan kepada Ninis untuk mengarang dan mengetiknya sendiri ia tolak untuk dilihat ibunya. Hasilnya membuat saya kagum, naskah drama yang ia serahkan dalam sebuah USB Flashdisk berjudul "Mimpi adalah Sebuah Kunci" mengangkat tema persahabatannya dengan 8 teman kelasnya. Dengan Dialog lengkap dengan narasinya yang akrab dan khas bergaya anak-anak, namun begitu dewasa dalam menyampaikan pesan persahabatan. Ninis, Ofi, Rila, Nadia, Lia, Laily, Mery, Rosyida, dan Khoirul memerankan dirinya masing-masing ketika bersekolah di MI Muhammadiyah 8 Bulu yang merupakan Madrasah yang minim fasilitas tapi tidak mengecewakan dalam hal prestasi. Alhasil, drama panggung yang dipentaskan dalam Malam Pentas Seni dan Kreatifitas siswa dalam rangka Pelepasan Siswa Tahun Pembelajaran 2011/2012 tersebut mendapatkan apresiasi tepuk tangan yang meriah dari penonton.

Sedikit cerita tentang Ninis, Siswi MI Muhammadiyah 8 bulu yang tidak hanya sering menumbuhkan senyum bangga dari bapak, ibu dan keluarganya, tapi juga para guru serta teman-temannya di Madrasah.
Nah buat anda yang ingin tahu karya-karya Ninis, dibawah ada link download beberapa cerita yang sudah dibukukan oleh Om nya Ninis yang dipersembahkan untuk Ninis pada usianya yang ke-sepuluh kemarin. kumpulan cerita ini merupakan karya-karya Ninis yang ditulisnya ketika berumur 4 - 6 tahun. Sebenarnya ada satu lagi kumpulan cerita yang sudah dibukukan dalam  buku yang berjudul "Two Fairies". Tapi karena saya belum mendapatkan Softcopy dari penulis sendiri maupun keluarganya, jadi belum bisa saya upload dan disertakan linknya. Insya Allah lain waktu jika sudah saya dapatkan akan saya post di blog ini. Sekian.




** Mohon maaf kepada semua pihak yang disebutkan disini tanpa meminta ijin lebih dahulu.
** Jika terdapat kesalahan mohon koreksi dengan meninggalkan pesan pada kolom komentar  dibawah


Lihat Selengkapnya ...