Satu lagi Karya Ninis yang dimuat di Radar Bojonegoro edisi Minggu, 5 Mei 2013. Tapi kali ini banyak yang diedit oleh editor Radar Bojonegoro. Yang ada di gambar di akhir post ini adalah versi yang sudah dimuat. yang masih berupa text ini adalah versi aslinya. Tulisan ini memang sengaja Ninis persembahkan khusus untuk MI Muhammadiyah 8 Bulu yang tak lama lagi akan Ninis tinggalkan, dan juga teman-teman sekelasnya yang sebentar lagi akan saling berpisah untuk menempuh pendidikan di jenjang SLTP. Silahkan dibaca :-) Ada saya juga loo dicerita ini. hehe :-D
*********************************************************************************
LITTLE STORY IN MY SCHOOL
Oleh : Nur Nisrina Hanif Rifda
Sekolahku, sekolahku adalah sebuah sekolah kecil yang termangu-mangu. Terletak di dalam sebuah desa kecil yangindah. Dikelilingi pepohonan rindang dan sungai yang mengalir deras. Sekolahku ini dibangun sekitar tahun 70-an. Dulu, bentuk sekolahku berkesan tua dan lebihmirip kandang kambing daripada sekolah. Berdinding papan, beratap bocor, lacimeja penuh telur semut dan sarang laba-laba, papan tulis kayu yang dimakanrayap dan meja yang sudah lapuk.
Tapi sekarang, bentuk sekolahkusudah lebih baik, berkat donatur-donatur yang menyumbang, Uang yang terkumpulcukup banyak dan mampu dibuat renovasi. Sekarang pun sudah ada lantai dua. Ya,walaupun lantai duanya masih berlantai tanah tetapiaku dan teman-temanku sudahcukup nyaman belajar disini.
Oke, Aku akan bercerita sedikittentang kelasku. Kelasku adalah satu-satunya ruangan yang terletak di lantaiatas. Dari balkonnya, kalau kita mau melongok sedikit pasti akan terkesima olehpemandangan yang....so beautiful. Walaupun begitu, bisa dibilang, kelas kamiadalah kelas termiskin di sekolah.
Bayangkan, murid yang menempatinyahanya ada sembilan. Dulu kami sekelas memang bersepuluh, tapi salah seorangkawan kami pindah ke sekolah lain. Karena hanya ditempati oleh murid yangsedikit, uang kas kami pun juga tak banyak, per minggu paling banyak hanya bisamenghasilkan Rp.10.000,-. Uang itu harus dibagi untuk membeli keperluan KelasKami yang menumpuk. Sapu, Tempat sampah, Penghapus, Papan Tulis, Penggaris, Kertas untuk membuat Prakarya, Lap Meja, Taplak, sekotakkapur setiap Minggunya, bahan-bahan praktik Sains, sampai hiasan kelas.
Terkadang, kami membuat HiasanKelas dari kaleng bekas minuman.Untuk lap meja dan taplak,Kami membawa sendiri sisa sisa kain perca dari rumah. Atau,kami menemukan kain perca di pinggir jalan, lalu kami cuci bersama-sama di sungaisampai bersih. Dan yang paling membuat kami jengkel adalah, sapu ataupun tempatsampah yang sudah susah payah didapat terkadang diangkut ke bawah dan takdikembalikan.Kalau sudah begitu, terpaksa, kami harus rela mengorbankan sedikittenaga Kami untuk naik turun tangga.
..........
Sekolah Kami juga merupakan saksi bisu pertengkaran pertengkaran kecil Kami sebagai Warga Satu Sekolah. Akankuceritakan salah satu pertengkaran Kami
...........
“Assalamu’alaikum”.Ucapku ketika memasuki Kelas. Di Kelas, hanya ada Lia dan Rosyida. Mereka tampak saling menyendiri. Lia di balkon, sedangkan Rosyida duduk sambil menulissesuatu di bukunya.
“Eh, enggak dijawab nih salamnya? Dosa,lho!”.Ujarku sambil duduk di kursiku.
“Wa’alaikumsalam!”Lia dan Rosyida kompak menjawab salam.
“Cieee...Kompakbanget,sih!” Komentarku sambil bertepuk tangan.
“Nis,turunyuk! Semoga hari ini main voli lagi di lapangan,” Ajak Lia.
“Janganvoli dong! Tanganku sakit nih?! Gara gara kena Bola voli” Sahutku.
Tak Lamakemudian, Rilla dan Nadia masuk kelas tanpa mengucapkan salam. Ya memang begitulah kelasku, hanya satu dua anak yang masih mengucap salam.
“Eh, udahngerjain PR Matematika, belum?”Tanya Rilla. Dia memang aktif banget kalau dalamhal ....mengerjakan PR!!
“Oh ya,Aku lupa!”Lia berlari ke arah kursinya, mengambil buku tulis dan tempat pensillau.....menghampiri Rilla.
“Ril, akupinjem tugasmu ya?” Pinta Lia. Rilla menggeleng dan menutup bukunya, Liamendesah kecewa.
Akutertawa kecil dan menuruni tangga. Dibawah, Aku bertemu dengan Ofi, Mery danLaili yang baru datang.
“Hei, udahngerjain PR, belum?!”Sapaku.
“Mati,Aku!”Mery menepuk keningnya dan berlari menaiki tangga. Aku hanya geleng-gelengkepala.
Akhirnya,Pak Fa’ul yang mengajar olahraga datang. Kemudian, Kami berkumpul membentukbarisan.
“Hari ini,kita olahraga di lapangan timur saja ya!” Ujar Pak Fa’ul
“Yaah....Pak.di lapangan Barat saja ya Pak!” Pinta anak laki-laki yang memang hobi main boladi lapangan Barat. Kalau perempuan, enggak dapat tempat olahraga!
“Tadimalam hujan, jadinya lapangan barat becek, kalau lapangan timur kan sudahdisemen” lanjut Pak Fa’ul, kami terpaksa menurut.
Sesampainyadi lapangan Timur, anak laki-laki langsung membentuk grup untuk sepak bola.Sementara anak perempuan saling meluruskan kaki dan beristirahat sejenaksebelum berolahraga.
Oh ya,lapangan Timur ini dekat dengan rumahku lho! Hanya berjarak 2 rumah ke arahtimur. Aku juga sering bermain sepeda disini bareng anak-anak tetanggaku.
“Eh, main lompattali yuk!” Ajakku. Teman-teman menyambut dengan gembira. Kami bermain dengansenang. Melompat-lompat seperti kelinci.
Usaibermain lompat tali, kami bermain sepak bola. Tentu saja, karena kami tidaktahu aturan sepakbola kecuali handsball, gol, pelanggaran, arti kartu merah dankuning, jadinya bermain amburadul ha..ha..ha..
Setelahbermain sepak bola, kami beristirahat sejenak. Sementara Aku, Laili, Lia dan Merypergi untuk melihat burung kakatua yang dimiliki seorang warga. Ketika kamikembali bergabung dengan teman-teman yang lain, kami melihat mereka sedangbergosip. Kelihatannya, sedang ngegosipin Rosyida.
“Lagingegosipin siapa sih?” tanya Mery ingin tahu. Serentak, semuanya menoleh.
“Eh, kamu ngerasa ada yang aneh nggak dengan Rosyida?”Tanya Nensi, salah satu anak kelas5. Aku mengangkat bahu. Sementara Lia memandang Rosyida yang sedang bermainmasak-masakan bersama anak-anak perempuan kelas 4.
“Dia ituanaknya suka mencari-cari kesalahan anak lain. Ngerasa dirinya paling benar.”Kata Rilla.
“Iyatuh..setiap kali kita bikin kesalahan, dia pasti sok jadi pahlawan kesiangan”sambung Ofi.
Usai olahraga...
Kamisengaja ganti baju terpisah dari Rosyida. Biar dia merasa, ditinggal sahabatitu kayak gimana rasanya. Dulu, dia sering membiarkan kami sendiri tanpa adayang menemani.
Usai gantibaju, kami cepat-cepat kembali ke kelas. Di kelas, Rosyida tampak menggambarsesuatu di buku corat coretnya. Tiba-tiba...
“Eh, kita bikin grup khusus 7 anak yuk!” ajak Rilla.
“Kitakeluar yuk, disini sumpek !” Keluh Merry. Kamipun keluar kelas.
“Gimanakalo nama grupnya ...mmmm... LaNiNa MeLiOLi” Usul Ofi
“LaNiNaMeLiOLi?” Kami bicara serentak
“Iya,gimana, bagus nggak?” tanya Ofi
“Bagus kok!” jawab kami serempak.
Keesokanharinya, Rosyida tampaknya tidak masuk sekolah hari ini. Mungkin, dia stresskali ya, aku sebenarnya agak nggak tega. Tapi apa boleh buat, setiap kali akudapat nilai bagus, dapat barang baru, bahkan saat pertama kali aku pakaikacamatapun digosipkan. Padahal kan aku pakai kacamata karena butuh, bukanuntuk sekedar action ato biar keren, meskipun dengan kacamata aku juga tambahkeren sich,ha ha ha.
“Ternyatanggak ada Rosyida itu nggak enak ya” kata Khoirul, satu-satunya anak laki-laki dikelasku.
“Tapi kitasudah banyak disakiti sama dia” sahut Ofi
“Allah ajaMaha Pengampun, masa kita sebagai hambaNya nggak bisa memaafkan sih. Kita kanmemang sudah ditakdirkan untuk berteman” kataku lagi.
“Memangnya,kamu ikhlas maafin dia? Tanya Rilla
“Enggakjuga sih” jawabku enteng. Serentak, semua anak melempariku dengan menggunakanbola-bola kertas. Sementara aku tiarap di bawah meja.
Keesokanharinya di sekolah, Rosyida datang lagi ke sekolah. Ketika dia datang kamiserempak menyanyikan lagu Cakra Khan.
“Kuberlari,kau terdiam..kau menangis ku tersenyum” kami menyanyi dengan kompak.
Tetapi,kamipun tak sanggup berlama-lama memperlakukan Rosyida seperti itu. Bagaimanapunjuga, kami juga bisa merasakan sedihnya dimusuhi sama teman, sekelas lagi.Akhirnya kami bersepakat untuk menyapa Rosyida lagi dan mengingatkan dia untuktidak suka menggosipkan teman lagi. Kamipun bermaafan dan berpelukan.
....
Itulah secuil kisah tentang riak-riak kecil disekolahku. Amanat yang ingin aku sampaikan melalui cerita ini adalah;bersyukurlah atas apapun dan bagaimanapun sekolahmu atau tempatmu menuntutilmu. Di sekolah, kami menemukan kebahagiaan yang belum pernah kami temukansebelumnya. Di sana, kamu bertemu guru-guru yang baik hati, kawan, sahabatsetia, disanalah rumah keduamu.
Coba pandangi lagi gedung sekolahmu. Jika dilihat sisi luarnya saja, sekolahmu tampak sebagai benda mati. Tapi, jika dilihat sisi dalamnya, sekolahmu akan tampak sebagai tempat terindah dihidupmu.Bagiku, sekolahku adalah sekolah terbaik di muka bumi ini. Disinilah tempatku berbagi cerita sekaligus menuntut ilmu. Disinilah, aku menemukan kebahagiaan yang berarti. Terukir sejuta kenangan di dindingnya.
Sayang, seribu sayang, aku harus pergimenapakkan kaki keluar dari sini. Takkan pernah kulupa tentangmu sekolahku...good bye my lovely school